|
|
MENERAPKAN DISIPLIN POSITIF
Kamis, 28 Januari 2010
Menerapkan Disiplin Positif
Apa itu disiplin?
Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar atau membaca kata ‘disiplin’? Sebagian dari Anda mungkin langsung teringat dengan kata hukuman. Tapi apakah disiplin bisa disamakan dengan hukuman? Disiplin merupakan usaha kita sebagai orang dewasa atau orangtua untuk mengajarkan pada anak bagaimana berperilaku sesuai dengan tuntutan lingkungan dimana anak berada. Lalu apa yang dimaksud dengan disiplin positif? Ini adalah suatu cara mengajarkan anak mengenai aturan dan perilaku dalam cara yang penuh kasih sayang. Dalam disiplin positif, anak akan tumbuh menjadi anak yang nyaman dengan dirinya sendiri, percaya diri dan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Selain itu, penerapan disiplin positif akan mengurangi konflik dan stress dalam keluarga.
Bagaimana bentuknya?
Setiap orangtua punya nilai-nilai dan gaya tersendiri dalam mengasuh anak, termasuk pula dalam menerapkan disiplin. Aturan apa saja yang perlu diikuti anak bisa saja berbeda antar tiap keluarga. Apapun isinya, yang terpenting dalam penerapan disiplin pada anak adalah:
ð Meningkatkan harga diri anak
ð Membuat anak merasa dihargai keinginan dan pendapatnya
ð Mendorong anak untuk mau bekerja sama
ð Membuat anak belajar bertanggung jawab atas perilakunya.
ð Membantu anak belajar hidup di tengah lingkungan sosial.
10 langkah menuju disiplin positif
Berikut 10 langkah yang dapat orangtua lakukan untuk memulai penerapan disiplin positif:
1. Jangan ragu untuk menunjukkan cinta kasih pada anak setiap hari. Apalagi untuk anak usia prasekolah, ungkapan sayang lewat sentuhan sangatlah penting untuk membangun rasa secure dalam diri mereka. Menerapkan disiplin bukan berarti orangtua harus bersikap galak dan menjaga jarak.
2. Dengarkan apa kata anak. Penerapan disiplin positif haruslah dua arah. Dengan didengarkan, anak merasa lebih dihargai dan juga belajar menghargai orang lain. Dengan demikian, lebih besar dorongannya bagi anak untuk bekerja sama dengan orangtua.
3. Luangkan waktu setiap hari bersama anak, paling tidak 15 menit sehari hanya untuk bermain atau bercengkerama bersamanya. Lewat kebersamaan ini, orangtua berkesempatan untuk lebih mengenal anak dan mencegah anak untuk berulah semata dengan tujuan mendapatkan perhatian orangtua.
4. Contohkan semua perilaku positif agar ditiru oleh anak. Pemberian contoh seringkali lebih efektif daripada memberikan nasehat berulang-ulang. Anak usia muda juga lebih mudah belajar dari melihat tindakan nyata di sekitarnya.
5. Puji anak segera ketika dia melakukan hal yang positif. Pujian dari orangtua adalah bentuk perhatian yang disenangi anak. Pada intinya semua perilaku yang hasilnya menyenangkan, akan diulang oleh anak. Hindari hanya memperhatikan ketika mereka berulah atau berbuat salah.
6. Lakukan tindakan antisipasi untuk mencegah munculnya perilaku begatif dari anak. Misalnya ketika akan makan malam bersama di restoran, pilihlah tempat yang cepat penyajian makanannya karena jika terlalu lama bisa jadi membuat anak tidak betah dan pada akhirnya rewel.
7. Berkomunikasi dengan anak dalam konteks pilihan. Anak akan lebih mudah diberi instruksi jika ada pilihan. Lebih baik “Mau makan pakai piring Winnie the Pooh atau Hello Kitty?” daripada “Kamu makan ya sekarang” Dengan adanya pilihan, anak tetap merasa pegang kendali.
8. Buat aturan yang sederhana. Tidak perlu menghujani anak dengan banyak poin tentang apa yang tidak boleh dilakukan dan boleh dilakukan dalam suatu situasi. Mengingat rentang konsentrasi dan daya ingat yang masih sederhana, anak akan mampu mengingat aturan yang sederhana, misalnya selalu mengembalikan mainan ke tempatnya setelah bermain.
9. Aturan apapun yang diberlakukan pada anak harus dijalankan oleh semua orang yang terlibat dalam pengasuhan anak. Hal ini penting dalam konsistensi penerapan disiplin di rumah. Jika perlakuan yang diterima anak berbeda-beda, maka anak akan mengalami kebingungan dan standar perilaku yang diharapkan tidak terbentuk dengan baik.
10. Buatlah pelaksanaan aturan semenyenangkan mungkin bagi anak. Mengingat anak masih berada dalam usia bermain, buatlah suasana menyenangkan ketika ia harus mengikuti aturan tertentu. Misalnya, ketika ia harus merapikan mainannya, ajak anak balapan memunguti mainannya.
***Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi.***
|
|
 |